KORAN TEMPO 4/10, -- Pakar pemasaran Yuswohady dalam sebuah tulisan di blognya, 7 Februari 2015, menjuluki negeri ini sebagai bangsa gaduh. Alasannya, menurut Yuswohady, bangsa ini menyukai kegaduhan. Apa-apa dibikin gaduh. Persoalan sepele dibikin muter-muter dan ruwet agar bikin gaduh. Urusan enggak penting dipenting-pentingkan atau seolah-olah penting agar riuh-rendah menimbulkan gaduh. Urusan yang lurus ditekak-tekuk, dibelak-belokkan agar berujung gaduh. Saya tidak akan menanggapi julukan bangsa gaduh tersebut supaya tidak gaduh. Sesama penulis dilarang saling menggaduhi.
Saya lebih tertarik mencermati istilah gaduh yang belakangan ini wira-wiri di ranah politik. Beberapa ungkapan muncul: politik semakin gaduh, situasi politik terns gaduh, bikin gaduh politik, serta beberapa ungkapan lain yang menghubungkan kata gaduh dengan politik. Semoga penggunaan kata gaduh ini tidak menular pada kaum jomblo. Bisa-bisa nanti kata gaduh digunakan untuk mengungkapkan perasaan kaum jomblo. Seperti terjadi kegaduhan asmara, hati semakin gaduh, galau gaduh gundah gulana. Buat pembaca yang jomblo, bola merah menggelinding, jangan marah just kidding, he-he-he.
Jauh sebelumYuswohady menjuluki bangsa ini sebagai bangsa gaduh, Susilo BambangYudhoyono semasa menjabat Presiden RI dalam berbicara di hadapan wartawan kerap menyisipkan istilah gaduh. Salah satunya saat menyampaikan harapan tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia, Sabtu, 31 Maret 2012, di Istana Negara. SBY menyampaikan, "Agar target pertumbuhan itu tercapai, keadaan dalam negeri tidak dibuat gaduh karena akan berdampak pada ekonomi Indonesia."
Setelah tidak menjabat Presiden, SBY masih sukarnemakai kata gaduh. Seperti dalam sebuah acara di Jakarta, Minggu, 17 Mei 2015, SBY mengatakan, "Tidak mudah memimpin Indonera di era politik gaduh." Presiden Jokowi pun pernah menggunakan kata gaduh saat ditanya oleh wartawan tentang reshuffle kabinet seusai buka puasa bersama di rumah dinas Ketua DPR. Menjawab pertanyaan wartawan, Jokowi mengatakan,"Jangan ganggu menteri yang barn bekerja. Jangan buat gaduh."
Beberapa bulan terakhir, beberapa tokoh politik meminta Presiden Jokowi menghentikan kegaduhan politik. Ada pihak yang menuding bahwa kegaduhan politik ini justru berasal dari lingkaran Istana. Di antaranya, komunikasi yang tidak berjalan baik antar-menteri yang kemudian menimbulkan cekcok satu dengan yang lain. Mendengar kata cekcok, saya teringat sebuah anekdot yang menggambarkan kegaduhan dalam rumah tangga karena percekcokan. Anekdot tersebut mengatakan bahwa, pada tahun pertama pernikahan, suami lebih banyak bicara, istri mendengarkan. Tahun kedua pernikahan, istri lebih banyak bicara, suami mendengarkan. Tahun ketiga pernikahan, suami dan istri sama-sama banyak bicara, tetangga yang mendengarkan.
Untuk bisa menghentikan kegaduhan politik, hal yang hams dilakukan pertama kali adalah mengetahui penyebab kegaduhan itu. Apakah kegaduhan itu disengaja atau tidak disengaja. Kegaduhan bisa saja dilakukan dengan sengaja karena menyangkut kepentingan pihak-pihak tertentu, baik itu positif maupun negatif. Misalnya, seorang menteri yang merasa gagasannya tidak didengar dalam sidang kabinet, sengaja melempar isu tersebut ke media massa walau dia tahu bahwa itu pasti akan menimbulkan kegaduhan. Apakah positif atau negatif, tergantung sudut pandang.
Kegaduhan bisa terjadi tidak sengaja karena lemahnya kemampuan komunikasi. Seorang menteri yang tidak mahir menjawab pertanyaan wartawan, terpancing untuk menilai kinerja menteri yang lain sehingga berita ini menimbulkan kegaduhan. Ada yang berkata, masak karena takut gaduh, menteri hams menjawab "no comment". Menurut saya, itu tidak masalah, yang jadi masalah adalah ketika menteri menjawab pertanyaan wartawan dengan kalimat "no smoking".
Selama ini kita sudah mengenal istilah manajemen krisis yang berguna untuk melakukan respons cepat terhadap sebuah kejadian yang dapat menghambat tujuan dan target perusahaan atau organisasi. Terinspirasi oleh manajemen krisis, menurut saya, untuk mengatasi kegaduhan politik, yang diperlukan Presiden Jokowi adalah manajemen gaduh. Respons cepat yang bisa mengatasi kegaduhan sehingga efek negatifnya tidak menjalar luas dan mengganggu roda pemerintahan.
Dalam manajemen gaduh ini, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kepemimpinan yang kuat. Dalam hal kepemimpinan, saya senang sekali memberikan contoh pelatih sepak bola. Klub-klub juara adalah ldub yang dilatih oleh pelatih yang memiliki kepemimpinan yang kuat. Seorang pemain sepak bola bintang yang sangat terkenal dan populer hams tunduk kepada kemauan pelatih. Pemain yang membangkang risikonya dibangkucadangkan atau dijual ke klub lain. Instruksi kepada pemain harus jelas, seperti mencetak gol ke gawang lawan. Jika tidak jelas, maka yang terjadi adalah seperti cerita pemain yang berhasil melakukan hattrick atau mencetak tiga gol. Namun pelatihnya malah marah karena pemain tersebut mencetak tiga gol ke gawang sendiri.
Kedua, komunikasi yang harmonis. Kegaduhan juga muncul karena ada komunikasi yang tersumbat, sehingga masing-masing mencoba mencari saluran komunikasi sendiri. Bayangkan jika ada 100 orang dalam ruangan dan masing-masing mereka bergumam, maka ruangan itu pasti berubah menjadi gaduh. Apabila mereka bicara secara bergantian, maka 99 orang lainnya bisa mendengar dengan jelas. Kembali saya beri contoh sepak bola. Apabila dalam sebuah tim sepak bola komunikasi berjalan tidak harmonis, jangan harap mereka bisa memenangi pertandingan. Sering terjadi salah open Berebut bola dengan rekan tim sendiri. Bahkan, ketika ada pemain yang mencetak gol, rekan-rekannya tidak bahagia Orena mencetak gol ke gawang sendiri, hattrick pula.
Ketiga, komitmen yang jujur. Kegaduhan bisa diatasi apabila masingmasing pihak membuat komitmen yang jujur. Artinya jujur, bersedia berkomitmen untukicepentingan bangsa, bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan. Saya beri contoh sepak bola lagi. Semua pemain memiliki komitmen agar timnya memenangi pertandingan. Tidak masalah siapa pun yang mencetak gol. Pemain tidak jujur ikut berkomitmen memenangkan tim, tapi dalam hatinya dia ingin dia yang mencetak gol agar mendapat pujian. Kemudian yang terjadi, dia memang berhasil mencetak gol, tapi ke gawang sendiri, hat-trick pula.
--
Iwel Sastra, Komedian dan Pakar Motivasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar