PHNOM PENH, KOMPAS — Parlemen Indonesia menawarkan jalan dialog untuk menjaga perdamaian di kawasan Asia yang kini sedang terimbas oleh isu terorisme dan separatisme. Dialog dinilai lebih efektif dan tepat sasaran daripada cara-cara kekerasan yang melibatkan kontak senjata dan peperangan.
"Dengan kekerasan, (masalah terorisme) tidak akan dapat selesai. Kita justru harus terus membangun toleransi. (Terorisme) jangan dihubungkan dengan agama sebab semua agama itu menganjurkan perdamaian," kata Wakil Ketua DPR Agus Hermanto, Rabu (9/12), di Phnom Penh, Kamboja, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Haryo Damardono.
Agus berbicara dalam general debate bertajuk "Promoting Peace, Reconciliation and Dialogue in Asia" di Sidang Ke-8 Asian Parliamentary Assembly (APA).
Agus menambahkan, pihaknya yakin jalan dialog dapat diterima oleh negara-negara lain sebab dialog merupakan jalan terbaik.
Pidato yang disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI terkait dengan isu terorisme itu relatif lunak dibandingkan dengan seruan keras dari beberapa pemimpin parlemen dari sejumlah negara.
Ketua Senat Pakistan Mian Raza Rabbani, misalnya, menekankan rasa simpatinya terhadap korban kekerasan di Paris, Perancis. "Tapi, di Pakistan, juga ada (kejadian) Paris setiap hari. Ada banyak orang yang tiap hari meninggal dunia," ujarnya.
Rabbani balik mengecam dunia Barat atas standar ganda yang digunakan untuk melawan terorisme. "Kami juga punya hak untuk diperlakukan dengan baik," katanya.
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen bahkan menuding negara Barat menggunakan standar triple, bukan lagi ganda. "Saya setuju dengan Rabbani. Ada standar ganda. Bahkan, tiap hari ada teman-teman di Timur Tengah yang meninggal dunia," ujar Hun Sen.
Hun Sen, yang berorasi dengan penuh semangat, mengeluhkan langkah negara Barat yang menyerang negara lain meski dengan atas nama perlawanan terhadap terorisme. "Padahal, negara-negara itu juga punya hak sebagai negara merdeka," ujarnya.
Anggota Kongres Rakyat Nasional (NPC) Tiongkok, Zhao Baige, juga mengingatkan supaya keamanan dan stabilitas di Asia harus dijaga. "Kita harus menghormati dan membantu satu sama lain," kataya.
Ia sepakat bahwa konflik yang ada harus diselesaikan dengan cara dialog daripada konfrontasi. "Harus dihindari konsep-konsep perang dingin di regional ini," ujar Zhao Baige.
Di sela-sela hari kedua Sidang Ke-8 APA, Agus Hermanto ditemui Wakil Ketua Presidium Majelis Rakyat Tertinggi (SPA) Korea Utara An Tong Chun. Pertemuan bilateral di ruang khusus itu membicarakan masa depan kedua negara.
Agus menyampaikan apresiasinya atas permintaan Korea Utara untuk melakukan diskusi bersama. "Ini hal baik. Dengan diskusi dan saling mengenal, siapa tahu kedua negara dapat menjalin hubungan dagang. Kita akhirnya dapat menjadi sahabat, dan baru kita membicarakan soal politik antarkedua negara," ujarnya.
Menurut Agus, Indonesia juga ingin berlaku adil dan menjadi sahabat baik bagi Korea Selatan dan Korea Utara. "Ini akan menjadi penyeimbanglah. Kita berteman dengan siapa pun juga," ujar Agus, yang sebelumnya terbang langsung ke Phnom Penh dari Seoul, Korea Selatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar