7 Des 2015

Indonesia Returns Into OPEC Embrace

REPUBLIKA 7/12 Page 6, --  It is still vivid in our memory. Six years ago, Indonesia decided to get out of the Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC). The decision was made with no hesitation.

Back then, President Susilo Bambang Yudhoyono’s Government had a logic reason. Indonesia was no longer pure oil exporter but also oil importer, a net oil importer.

So, Indonesian interests were different from OPEC. Indonesia seemed no longer to be classified as an oil-rich country.

In 2007, as much as 135 of 348 million barrels of crude oil and condensate production were exported while the rest went to domestic refineries.

But Indonesia still imported 116 million barrels of crude oil to meet domestic demand and for the process in domestic refineries.

However, as much as 244 million barrels of fuel the domestic refineries produced were still insufficient for the domestic demand.

In 2007, fuel demand in the country reached 392 million barrels; 214 million for transportation, 62 million for households, 50 million for industry, and 68 million for power plants.

So, in 2007, Indonesia exported 135 million barrels of crude oil, imported 116 million barrels of crude oil and imported 150 million barrels of fuel.

Six years have passed since Indonesia left OPEC. The government says it has good news. Indonesia will again become active member of OPEC in 2016. OPEC Governor for Indonesia, Widhyawan Prawiraatmadja explained, Indonesia would have many advantages if Indonesia rejoined OPEC.

Prawiraatmadja said, currently, Indonesia was in the process of transition from energy use dominated by fossil fuels towards more sustainable renewable energy in the future.

He considered, the increased energy resilience was done by improving the domestic energy sector, easing the licensing process for investments, encouraging exploration, and improving the governance.

“This is reinforced by the increased active role of the State in the form of foreign cooperation, both multilateral and bilateral, “Prawiraatmadja said, Friday (4/12). Moreover, he continued, these efforts were increasingly realized after Indonesia became member of International Energy Agency (IEA) since 17 November 2015. Indonesia again will become the OPEC member in 2016 with the aim of maintaining Indonesian national interests.

“Indonesia will be part of the decision makers, not the recipient, “he said.

According to Sudirman Said, minister of energy and mineral resources, Indonesia would gain many benefits.  "For Indonesia, becoming active again in OPEC will provide many benefits, [such as] opportunities for direct deals of crude oil and fuel purchases, and it will [give the State] significant savings. And the most important thing is, we’ll get involved again in the international arena. This is important to invite investors to invest in Indonesia, “he said.
-------

Kembalinya Indonesia ke Pangkuan OPEC

Memori enam tahun silam masih terekam jelas dalam ingatan. Indonesia memutuskan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Sebuah keputusan yang diambil tanpa keraguan sama sekali.

Alasan pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika itu teramat logis. Negeri ini bukan lagi murni pengekspor minyak, melainkan juga pengimpor minyak. Istilahnya, negara importir neto.

Dengan status tersebut, kepenting an Indonesia sudah berbeda dengan OPEC. Gambaran yang menjelaskan, Indonesia tidak lagi tergolong kedalam negeri kaya minyak bisa terlihat dalam arus minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) 2007.

Pada tahun itu, dari produksi minyak mentah dan kondensat sebesar 348 juta barel, sebanyak 135 juta barel di antaranya diekspor dan sisanya masuk ke kilang dalam negeri.
Namun, Indonesia masih mengimpor minyak mentah sebanyak 116 juta barel untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan diolah di kilang dalam negeri.

Kemudian, produk BBM sebesar 244 juta barel yang dihasilkan kilang sendiri juga masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri. Imbasnya, Indonesia harus mengimpor lagi BBM sebanyak 150 juta barel.

Pada 2007, kebutuhan BBM dalam negeri mencapai 392 juta barel yang digunakan buat transportasi 214 juta barel, rumah tangga 62 juta barel, industri 50 juta barel, dan pembangkit listrik 68 juta barel. Dari arus minyak tersebut, terlihat Indonesia hanya mengekspor minyak mentah 135 juta barel, tetapi mengimpor 116 juta barel minyak mentah dan juga BBM sebanyak 150 juta barel.

Enam tahun berlalu sejak keputusan Indonesia keluar dari OPEC, sebuah kabar baik dilansir pemerintah. Indonesia akan kembali menjadi anggota aktif OPEC mulai 2016. Gubernur OPEC untuk Indonesia Widhyawan Prawiraatmadja menjelaskan, dengan aktif kembali ke dalam OPEC, Indonesia akan memiliki banyak keuntungan.

Saat ini, jelas Widhyawan, Indonesia berada dalam proses transisi dari penggunaan energi yang didominasi oleh energi fosil menuju energi baru terbarukan yang lebih berkesinambungan pada masa datang.

Dia menilai, meningkatkan ketahanan energi dilakukan dengan membenahi sektor energi dalam negeri dalam bentuk memudahkan perizinan untuk investasi, menggalakkan eksplorasi, serta meningkatkan tata kelola.

"Hal ini diperkuat dengan peningkatan peran aktif negara dalam kerja sama luar negeri, baik secara multilateral maupun bilateral," kata Widhyawan, Jumat (4/12). Selain itu, dia melanjutkan, upaya ini semakin terwujud setelah di sektor energi, Indonesia menjadi anggota International Energy Agency (IEA) sejak 17 November 2015. Indonesia pun kembali mengaktifkan keanggotaannya di OPEC mulai 2016 dengan tujuan memastikan kepentingan nasional Indonesia terjaga.

"Indonesia akan menjadi bagian dari pengambilan keputusan, bukan penerima akibat dari keputusan," katanya.

Menteri ESDM Sudirman Said menilai banyak keuntungan yang akan diperoleh Indonesia. "Bagi Indonesia, kembali aktif di OPEC akan memberikan banyak keuntungan, peluang direct dealpembelian crudedan BBM bisa menghemat cukup signifikan. Dan terpenting kita bisa kembali berkumpul di panggung internasional. Ini penting untuk mengundang investor masuk ke Indonesia," ujarnya. Oleh Sapto Andika Candra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar