Ads Inside Post

Terorisme Masuki Fase Racuni Pikiran



Pelaku Penusukan London Disidang

WASHINGTON, SENIN — Presiden AS Barack Obama menyatakan ancaman terorisme memasuki fase baru dengan "meracuni pikiran". Obama meminta para ahli di Silicon Valley membantu menangani ancaman dari kelompok militan yang memakai media sosial dan komunikasi elektronik.

 Hal itu disampaikan dalam pidato yang disiarkan televisi pada jam tayang utama, Senin (7/12) pagi WIB, dari Gedung Oval, Washington. Jutaan pemirsa menyaksikan pidato Obama terkait masalah terorisme pasca penembakan massal di San Bernardino, California, pekan lalu.

Presiden AS berjanji akan memburu komplotan teroris di mana pun. Namun, katanya, "Kita tidak akan kembali ke medan perang yang lama dan mahal di Irak atau Suriah."

Menurut Obama, kelompok Negara Islam di Irak Suriah (NIIS) mengetahui bahwa mereka tidak akan menang di medan perang. Akan tetapi, lanjut Obama, mereka tahu jika AS menduduki wilayah asing, mereka bertahun-tahun akan memberontak, membunuh ribuan tentara dan menghabiskan sumber daya AS. Amerika harus merekrut lagi jika sumber daya yang ada dipakai untuk perang.

Dalam pidatonya, Presiden AS meminta ahli-ahli teknologi di Silicon Valley membantu antara lain dengan kembali mendiskusikan tentang privasi personal pada daring. "Saya ingin mendesak teknologi tinggi dan petinggi penegak hukum agar mempersulit teroris menggunakan teknologi untuk melarikan diri dari jerat hukum," katanya. Obama juga memerintahkan agar program visa yang berlaku saat ini ditinjau kembali.

Sebagaimana yang terjadi dengan pasangan pelaku penembakan belakangan diketahui menggunakan fasilitas visa K-1 untuk datang ke AS. Visa tersebut diberikan kepada seseorang yang menikah dengan warga AS, berlaku untuk 38 negara. Tersangka Tashfeen Malik yang berkewarganegaraan Arab Saudi mendapat visa itu karena menikah dengan Syed Farook, warga AS. Departemen Luar Negeri menyebutkan, tahun 2014 telah mengeluarkan 36.000 visa K-1.

Biro Investigasi Federal AS (FBI) melihat kasus penembakan oleh Syed Farook dan istrinya, Tashfeen, yang menewaskan 14 orang itu sebagai serangan teror.

Kandidat dari Partai Republik Donald Trump langsung menangggapi pidato Obama, "Kita perlu presiden baru, segera," kicaunya melalui Twitter. Mantan Gubernur Florida Jeb Bush mengatakan, Obama akhirnya menghapus "fantasi politiknya" yang menganggap terorisme sudah surut.

Persetujuan turun

Namun, Presiden Obama mengingatkan retorika panas anti Muslim dan kata-kata keras sebagaimana dalam kampanye Trump, akan dimainkan oleh NIIS. Menurut Obama, perlawanan jangan diartikan perang antara Amerika dan Islam.

"Keberhasilan kita bukan oleh ucapan keras atau meninggalkan nilai-nilai kita atau memberikan rasa takut. Itu justru yang diinginkan NIIS. Sebaliknya, kita harus mengalahkan dengan kuat dan cerdik, tangguh dan tak kenal menyerah. Juga dengan mengambil segala aspek kekuatan Amerika," kata Obama.

Berdasarkan survei terbaru yang dirillis CNN/ORG, Minggu, ketidaksetujuan publik kepada Obama mencapai 60 persen. Angka ini naik 9 persen dibandingkan dengan survei serupa yang diadakan pada Mei.

Survei yang dilakukan sebelum serangan di San Bernardino juga memperlihatkan perubahan opini publik tentang penanganan kelompok NIIS. Mayoritas atau 53 persen publik mengatakan, AS harus mengirim pasukan darat melawan NIIS.

Di London, tersangka pelaku penusukan di stasiun kereta bawah tanah, Senin, dihadapkan ke sidang pengadilan dengan dakwaan percobaan pembunuhan. Muhaydin Mire (29), menurut jaksa David Cawthorne, melakukan kekerasan tanpa didahului sebuah provokasi. Korbannya yang sudah jatuh, ditendang berulang-ulang. Korban yang berusia 56 tahun, kata jaksa penuntut, menderita luka sepanjang 12 cm di leher dan harus dioperasi selama lima jam.

Tersangka yang datang di sidang mengenakan T-shirt dan celana abu-abu pada sidang pertama, hanya ditanya identitas. Sidang akan dilanjutkan Jumat.

Polisi Metropolitan London memperlakukan peristiwa penusukan sebagai aksi teror. Inggris saat ini berada dalam kewaspadaan keamanan tingkat kedua tertinggi. Ini berarti serangan militan dianggap sangat mungkin, kendati tidak dalam waktu sangat dekat. Hal ini terutama karena ancaman yang disampaikan oleh militan di Irak dan Suriah. AFP/REUTERS/RET
--

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 8 Desember 2015, di halaman 9 dengan judul "Terorisme MasukiFase Racuni Pikiran".