Ads Inside Post

Apa Tumpuan Grup Bakrie Kini?



Bisnis Indonesia 10/8 Pg. 14, -- Meroketnya harga komoditas pada dekade lalu berhasil mengantarkan Aburizal Bakrie menjadi prang terkaya di Indonesia, bahkan disebut-sebut se-Asia Tenggara. Grup Bakrie, apa kabarmu kini?

Aburizal Bakrie, pada Desember 2007 tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Saat itu, pria yang akrab disapa Ical itu masih berusia 60 tahun dengan total kekayaan ditaksir mencapai US$5,4 miliar.

Bakrie menduduki posisi puncak " mengalahkan Sukanto Tanoto (US$4,7 miliar), R. Budi Hartono (US$3,14 miliar), Michael Hartono (US$3,08 miliar), dan Eka Tjipta Widjaja (US$2,8 miliar), secara berturut-turut pada urutan 2-5.

Dia menjalankan perusahaan Grup Bakrie yang diwarisi dari ayahnya, Ahmad Bakrie.

Akan tetapi, posisi Bakrie tents melorot sebagai orang terkaya di Tanah Air. Ical pada 2009 bertengger di urutan empat, pada 2010 pada urutan 10, pada 2011 urutan 30, dan kemudian terpental dari daftar 40 orang terkaya RI sejak 2012.

Tampaknya, masa kejayaan Bakrie harus pupus seiring dengan kusamnya harga komoditas. Terlebih, mayoritas perusahaan milik Ketua Umum Partai Golkar versi Munas Bali itu memang bergerak di sektor komoditas batu bara, minyak dan gas, serta perkebunan kelapa sawit.

Siapa tak kenal dengan PT Bumi Resources Tbk. Saat masa jayanya, emiten berkode saham BUMI itu sahamnya bahkan meroket ke langit dari Rp50 per lembar menjadi Rp8.750 per lembar.

BUMI bersanding dengan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. sebagai emiten berkapitalisasi pasar terbesar. Emiten berkode saham TUN takluk, BUMI menang. Saham BUMI tercatat memiliki kapitalisasi pasar terbesar di Tanah Air senilai hampir Rp190 triliun.

Kini, saham BUMI pun 'membumi'. Saham BUMI bersama dengan delapan emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie lainnya harus tiarap di level terendah Rp50 per lembar.

Bahkan, BUMI hams disuspensi akibat keterlambatan laporan,keuangan. Manajemen BUM1 dikenai denda Rp150 juta, dan barn dibayar Rp50 juta. PT Bursa Efek Indonesia juga menghentikan perdagangan saham PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. (BORN) akibat belum menyampaikan laporan keuangan.

Bumi Resources bahkan tercatat memiliki utang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini senilai US$3,57 miliar setara dengan Rp47,48 triliun (Kurs Rp13.300/ US$).

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis terakhir oleh perseroan, disebutkan utang jangka panjang pada kuartal 1/2015 tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai US$3,58 miliar.

Total liabilitas jangka pendek Bumi Resources mencapai US$5,29 miliar setara dengan Rp70,35 triliun. Jumlah tersebut melonjak dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$4,93 miliar.

BUMI hams menderita rugi bersih US$344,32 juta setara dengan Rp4,5 triliun pada kuartal 1/2015 setelah. periode yang sama setahun lalu meraup laba RpUS$349,45 juta.

Pendapatan BUMI melorot menjadi US$10,59 juta pada kuartal 1/2015 dari sebelumnya US$19,24 juta. Laba kotor yang dikantongi juga terjungkal menjadi US$9,16 juta dari sebelumnya US$17,32 juta.

Anak usaha BUMI yang juga hasil patungan dengan pengusaha Samin Tan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), akhirnya terperosok ke level gocapan. Saham BRMS pada akhir pekan lalu turun 1,96% ke level Rp50 dari sebelumnya Rp51 per lembar.

Tidak hanya BUMI, mayoritas harga saham Grup Bakrie yang tiarap lainnya.juga mencerminkan kinerja masing-masing emiten. Hingga akhir pekan lalu, (7/8), barn PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. (UNSP), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), dan PT Bakrieland Development Tbk. (ELTY), yang telah merilis kinerja semester I/2015.

Bakrie Sumatera Plantations meraih penjualan Rp1,07 triliun pada paruh pertama tahun ini, turun 21,03% dari sebelumnya Rp1,36 triliun. Perseroan menderita rugi bersih Rp707 miliar dari sebelumnya laba Rp100,59 miliar.

Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, mengaku optimistis kinerja perseroan akan tents membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung oleh upayaupaya peningkatan produktivitas yang tents dilakukan perseroan melalui serangkaian program ' revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.

"Apalagi, berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada semester kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Tahun ini kami optimistis tumbuh jika dibandingkan dengan 2014," ujarnya.

Emiten perkebunan kelapa sawit itu juga sahamnya tiarap di level gocapan. Saham UNSP memang sempat menyentuh level tertinggi Rp14.450 per lembar pada 28 Juni 1996 dan tertinggi Rp490 per lembar dalam lima tahun terakhir pada 20 Mei 2011.

Setali tiga uang, kinerja ENRG juga tersungkur karena harus menderita rugi bersih Rp442,65 miliar pada paruh pertama tahun ini. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, ENRG mampu meraup laba Rp810,75 miliar.

Kondisi kinerja yang memburuk itu juga tercermin dalam harga saham ENRG yang terperosok hingga akhir pekan lalu ke level Rp54 per lembar, bahkan sempat menyentuh level terendah Rp52 pada 28 Juli silam. Dalam 5 tahun terakhir, saham ENRG sempat menyentuh Rp265 pada 1 Agustus 2011, dan level tertinggi Rp1.490 pada 31 Desember 2007.

Pun demikian dengan emiten properti milik Bakrie, Bakrieland Development. Kinerja pendapatan ELTY melorot 40,77% pada paruh pertama tahun ini menjadi Rp629,13 miliar dari tahun lalu Rp1,06 triliun.

Pundi-pundi untung Bakrieland pun terkuras. ELTY hams menderita rugi bersih Rp78,02 miliar, padahal semester I tahun lalu masih meraup laba bersih Rpm ,37 miliar. Akhimya, kinerja perseroan tak mampu mendongkrak harga saham yang tiarap di level terendah Rp50 per lembar.

INDUK USAHA
Sementara itu, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) sebagai induk usaha, mengakui bakal terlambat menyampaikan kinerja keuangan perseroan. Laporan keuangan BNBR dan anak usaha tengah dilakukan penelaahan terbatas.

"Batas waktu penyampaian laporan keuangan adalah selambatlambatnya dua bulan setelah tanggal laporan keuangan dimaksud yaitu 31 Agustus 2015," tulis Sekretaris Perusahaan BNBR Christofer A. Uktolseja dalam keterbukaan informasi di BEI.

Induk usaha Grup Bakrie tersebut tak luput dari saham lima puluh perak. Dalam 5 tahun terakhir, saham BNBR bahkan hanya mampu menembus level tertinggi Rp86 pada 19 Mei 2011.

Padahal, saham BNBR sempat menyentuh level Rp16.900 per lembar pada 31 Maret 1994. Tetapi, saham BNBR pernah juga "terjungkal ke level Rp10 per lembar pada 30 September 2002.

Dari emiten-emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie, hanya dua perusahaan yang sahamnya tidak tiarap di level gocap. Saham itu adalah PT Visi Media Asia Tbk. (VIVA), dan anak usahanya, PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA), yang berafiliasi dengan keluarga Thohir.

Saham VIVA pada perdagangan akhir pekan kemarin ditutup stagnan di level Rp439 per lembar. Sejak go public, saham VIVA pernah menyentuh level tertinggi pada 7 Juni 2012 sebesar Rp870 dan terendah pada 21 Agustus 2013 sebesar Rp134 per lembar.

Pada saat yang sama, saham MDIA justru ditutup melesat 10,39% ke level Rp3.295 dari sebelumnya Rp2.985 per lembar. Sejak IPO, saham MDIA menyentuh level tertinggi Rp4.000 per lembar pada. 31 Maret 2015 dan terendah Rp1.380 pada 10 April 2014.

Pergerakan harga saham
kedua emiten media ini memang mencerminkan kinerja perseroan. VIVA dan MINA hingga kuartal 1/2015 menjadi emiten Grup Bakrie yang masih membukukan kinerja positif dengan perolehan laba bersih masing-masing Rp18,07 miliar dan Rp104,88 miliar.

Lantas, sampai kapan Grup Bakrie menjadikan kedua emiten media itu menjdi backbone bagi konglomerasi ini?
--
Penulis : Sukirno